Beranda Show Times Coming Soon Anies Baswedan Puji Film Aisyah-Biarkan Kami Bersaudara

Anies Baswedan Puji Film Aisyah-Biarkan Kami Bersaudara

1622
0
BERBAGI
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan dan Laudya Cynthia Bella. Foto: Dudut Suhendra Putra
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan bersama pemain dan tim film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Foto: Dudut Suhendra Putra.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan bersama pemain dan tim film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Foto: Dudut Suhendra Putra.

Jakarta, theatersatu.com: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan dengan busana adat Jawa, Senin (2-5-2016) di CGV Blitz, Grand Indonesia, hadir diacara nonton bareng film Aisyah- Biarkan Kami Bersaudara produksi terbaru Film One Production.

Meskipun Anies mengaku belum sempat nonton secara utuh film Aisyah-Biarkan Kami Bersaudara dan baru menyaksikan trailernya saja. Pada wartawan malam itu, Anies memujinya dan sangat mengapresiasi film arahan Herwin Novianto ini.

“Ini film bagus, sangat baik dan menginspirasi pada anak-anak agar memiliki mimpi yang tinggi. Saya menganjurkan ke dinas-dinas dan sekolah-sekolah seluruh Indonesia, untuk menonton film ini,” katanya saat diwawancara wartawan didampingi pemeran utamanya nan cantik Laudya Cynthia Bella yang berperan sebagai guru bernama Aisyah.
Selain Laudya yang tampil di film yang medio Mei ini, akan diputar dibioskop, juga dilakoni bintang-bintang ternama, seperti: Lydia Kandou, Ge Pamungkas, Arie Kriting, Surya Sahetapi.

Sedang kisah ringkasnya dituturkan sosok Aisyah adalah seorang sarjana yang baru saja lulus. Ia tinggal di sebuah kampung dekat perkebunan teh yang sejuk dan sarat dengan nilai religius di Ciwidey, Jawa Barat bersama Ibu dan adik laki-lakinya. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.

Ia ingin mengabdikan dirinya sebagai seorang guru. Suatu hari, Ia mendapatkan telpon dari yayasan tempat ia mendaftarkan diri. Tenyata ia sudah mendapatkan tempat untuk mengajar. Sebuah lokasi yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya bernama Dusun Derok, di Kabupaten Timur Tengah Utara. Penempatan ini menjadi konflik kecil dengan ibunya. Akan tetapi karena kerasnya niat, Aisyah memutuskan untuk tetap berangkat ke NTT.

Dari awal kedatangan, ia sudah merasa “asing”. Apalagi ketika datang, masyarakat salah menganggapnya sebagai Suster Maria, hanya karena sama-sama memakai kerudung. Memang masyarakat mengharapkan kedatangan Suster Maria sebagai guru di kampung tersebut. Sehingga ketika kesalahpahaman ini sudah bisa diatasi, ia tetap merasa gamang.

Kampung yang terpencil, tanpa listrik dan sinyal seluler. Musim kemarau yang panjang air susah didapat. Lingkungan yang baru, tradisi yang serba asing dan ruang lingkup religius yang berbeda membuat Asyah gamang. Ada tokoh Pedro (diperankan oleh Arie Kriting) yang membuat persoalan keseharian Aisyah sedikit teratasi.

Awal sebagai guru, ia harus menghadapi kebencian salah satu muridnya bernama Lordis Defam. Awalannya ia tidak tahu kenapa Lordis membencinya, bahkan mempengaruhi teman-teman sekelasnya sehingga tidak mau masuk sekolah. Belakangan lewat kepala dusun, Aisyah mengerti bahwa kedatangannya sebagai guru yang muslim dianggap musuh oleh Lordis Defan yang beragama Katolik. Pemahaman itu dimengerti oleh Lordis Defam lewat pamannya, yang ketika konflik Ambon berlangsung ia berada di kota tersebut.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of