Beranda Film Behind The Scene Anwar Fuady,” Fungsi LSF Untuk Memelihara Tata Nilai dan Tata Budaya Bangsa...

Anwar Fuady,” Fungsi LSF Untuk Memelihara Tata Nilai dan Tata Budaya Bangsa dibidang Perfilman

1198
0
BERBAGI
Ketua LSF, Anwar Fuadi Berikan Sambutan di diskusi film. Foto: Dudut Suhendra Putra.
Ketua LSF, Anwar Fuadi Berikan Sambutan di diskusi film. Foto: Dudut Suhendra Putra.
Ketua LSF, Anwar Fuadi Berikan Sambutan di diskusi film. Foto: Dudut Suhendra Putra.

Jakarta, theatersatu.com: Ada 764 stasiun televisi di seluruh Indonesia, dan 870 layar bioskop di seluruh Indonesia. Nah, stasiun TV yang bejibun itu menayangkan film-film yang akan tayang. Sedang bioskop menayangkan rata-rata lebih 100 film layar lebar setiap tahun. Belum lagi reklame film yang marak, seperti trailer, poster film maupun sarana publikasi dan promosi lainnya. Dan, semuanya harus lolos sensor dulu sebelum tayang.
Ditambah dengan gempuran film-film asing, terasa kian dibutuhkan dan tentunya tantangan berat ke depannya buat LSF. Pertanyaannya bisakah 17 anggota LSF bekerja maksimal menghadapi pekerjaan yang banyak tersebut untuk sensor film. Tentu saja dibutuhkan kerja keras yang maksimal bagi anggota LSF.

Pasalnya, seperti yang diungkapkan ketua LSF, Anwar Fuadi dalam sambutan diacara diskusi bertema “Meningkatkan Pertahanan dan Ketahanan Budaya Bangsa Melalui Sensor Film” di Gedung Film, Jakarta Selatan, Kamis (2/7/2015) sore yang dilaksanakan Forum Koordinasi Lembaga Sensor Film (LSF),

“Karena fungsi LSF salah satunya untuk memelihara tata nilai dan tata budaya bangsa dalam bidang perfilman,” jabar Anwar.

“Sensor pada dasarnya diperlukan untuk melindungi masyarakat dari pengaruh negatif film,” ujar Pemerhati film dan pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Hadiartomo, MSn yang menjadi salah satu narasumber dalam diskusi tersebut, dengan makalah, “Antara Gunting Tajam dan Pikiran Tajam”.

“Sekarang ini dibutuhkan pikiran yang tajam dalam melihat persoalan. Butuh seseorang yang pintar untuk menerjemahkan fungsi LSF. Diantaranya mampu memelihara tata nilai dan tata budaya bangsa, “ lanjutnya.

Diskusi yang menghadirkan nara sumber lainnya, yaitu Prof. Dr. HM. Ridwan Lubis, produser dan sekaligus pelaku di industri perfilman, Zairin Zain, serta dimoederatori oleh Drs. Nyoman Widi Wisrawa ini, bertujuan sosialisasi kalau penyensoran pun perlu dilakukan sebagai mata rantai pembinaan, guna menumbuhkan kemampuan untuk mengendalikan diri di kalangan insan perfilman dalam berkarya sebagai wujud tanggung jawab kepada masyarakat. Karena saat ini sebuah tontonan audiovisual seperti film sangat berpengaruh fenomenanya terhadap kehidupan di masyarakat.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of