Beranda Film Film Bid’ah Cinta, Perbedaan Bukan Harusnya Jadi Api Kebencian

Film Bid’ah Cinta, Perbedaan Bukan Harusnya Jadi Api Kebencian

293
0
BERBAGI
Adegan film Bid'ah Cinta. Foto: Ist.

Jakarta, theatersatu.com: Nurman Hakim sang peracik film Bid’ah Cinta, seakaan memahami betul gejolak yang tengah terjadi di tengah masyarakat kita saat ini. Ya gejolak utamanya ketika kita umumnya masyarakat tak lagi berpikir jernih, selalu merasa benar sendiri, yakin sendiri dan tak sadar kalau tengah diperalat sebuah kepentingan.

Bida’ah Cinta coba memotret peristiwa ini dalam sebuah bingkai kisah yang menarik. Bingkai kehidupan yang faktanya memang selalu ada kontroversi. Bahkan perbedaan itu bisa saja terjadi diantara kita sesama saudara muslim. Tahlilan boleh atau tidak dilakukan? Memperingati hari kelahiran Rosul, boleh atau tidak? Pakai qunut boleh atau tidak saat menjalankan sholat subuh? Dan perbedaan lain yang terus muncul hingga silaturahim diantara kita pun tanpa disadari jadi api permusuhan, api kebencian.

Ini semua terjadi karena kita tidak belajar Islam secara kaffah atau mendalam sedalam-dalamnya, hingga kita mudah diadu domba dan tak mampu lagi berpikir bersih dan bijaksana. Tidak berpikir secara keimanan yang benar-benar dalam ketika sebuah persoalan sesungguhnya bisa dipecahkan dengan sederhana tapi justru dipersulit sendiri karena ketidak tahuan ilmu yang kita miliki. Akhirnya kita tak mampu menelaah sebuah persoalan bukan sekedar boleh atau tidak. Bid’ah Cinta coba mengurai kisah tadi dalam sebuah tontonan memikat, yang dibumbui kelucuan untuk menertawai diri sendiri, yang umumnya memang cuma ilmu yang didapat hanya sebatas itu saja.

Agar yang menonton pun enjoy untuk menyaksikannya, Bid’ah Cinta yang dilakoni Dewi Irawan, Fuad Idris, Jajang C.noer, Alex Abbad, Tanta Ginting, Ayushita, Dimas Aditya, Ibnu Jamil ini, tentu saja diracik dengan kisah asmara. Hubungan asmara itu terjadi antara Khalida dan Kamal yang tak direstui oleh dua keluarga yang saling berbeda dan bermusuhan, keluarga mereka mempunyai pemahaman tentang Islam yang berbeda satu sama lain.

Islam puritan & Islam tradisional. Persoalan perbedaan pandangan agama ini menyeret hubungan asmara mereka ke dalam pusaran konflik. Khalida adalah anak H. Rohili, seorang yang sangat akrab dengan para pemuda di kampung itu. Di sisi lain, Kamal adalah anak lelaki H. Jamat, seorang haji kaya yang cukup disegani dan menjadi pendukung utama penyebaran Islam puritan di kampung yang dimotori kemenakannya bernama Ustadz Jaiz.

Perbenturan antara H. Rohili dan H. Jamat pada akhirnya juga membenturkan hubungan Khalida dengan Kamal. Khalida yang dibesarkan dalam ajaran Islam tradisional merasa terganggu dengan perkembangan ini. Sebaliknya, Kamal yang banyak mendapat pengaruh dari ajaran Islam puritan H. Jamat dan berkepentingan dengan pekerjaannya di Yayasan pendidikan yang dipimpin oleh Ustadz Jaiz, merasa bingung dan tertekan dalam posisinya yang sulit.

Di tengah lingkungan yang tak mungkin diseragamkan dan di mana perbedaaan merupakan suatu keniscayaan, bagaimanakah kelanjutan kisah cinta Khalida dan Kamal? Apakah cinta dapat menghapus segala kebencian yang ada? Agar tak menimbulkan kontroversi, memang sebaiknya kita menyaksikan film ini secara utuh dari awal hingga akhir. Penasarankan? Sabar, tinggal catat tanggal penayangan dibioskop, yang akan hadir mulai Kamis, 16 Maret ini.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz