Beranda Film Film Boven Digoel, Kisah Nyata Dokter di Pedalaman Papua Yang Menantang Maut...

Film Boven Digoel, Kisah Nyata Dokter di Pedalaman Papua Yang Menantang Maut Demi Keselamatan Pasien

587
0
BERBAGI
Prescon film Boven Digoel, Senin (6/2/2017) di Jakarta. Foto: dudut Suhendra Putra.
Prescon film Boven Digoel, Senin (6/2/2017) di Jakarta. Foto: dudut Suhendra Putra.

Jakarta, theatersatu.com: Film “Boven Digoel” merupakan film adaptasi dari FTV berjudul “Silet di Belantara Digoel” yang meraih penghargaan Film Daerah Terpilih di ajang Piala Maya 2015. Kini film yang diambil dari kisah nyata pengabdian diri seorang Dokter John Manangsang yang berada di pedalaman Papua, yang menantang maut demi keselamatan pasiennya ini, diangkat ke layar lebar dan merupakan film pertama buatan rumah produksi asal Papua, yakni Fokomoko Matoa Indah Film, arahan sutradara FX Purnomo yang diakrab disapa Ipong Wijaya.

John Manangsang sebagai pelaku sejarah yang merangkap sebagai produser dalam ini, membeberkan manfaatnya produksi film tersebut yang mengangkat kejadian nyata 25 tahun yang lalu untuk hari ini dan masa depan. Fakta membuktikan dari 25 tahun lalu dengan tahun sekarang, bahwa di Papua angka kematian ibu dan bayi sekarang masih tinggi dan menduduki rangking nomer satu di Indonesia.

“Padahal, kalau kita lihat jaman dulu, tenaga dokter spesial ibu dan anak belum banyak di Papua di satu propinsi bisa dihitung dengan jari hanya satu-dua dokter. Sekarang di tiap kabupten ada satu hingga empat dokter. Rumah sakit sekarang ada dimana-mana, “ terang John Manangsang pada awak media di Jakarta, Senin (6/2/2016) kemarin.

“Memang kisah nyata dalam buku yang diangkat jadi film ini menceritakan pergumulan dan perjuangan dokter muda yang ditempatkan di puskesmas pedalaman Papua, yang berupaya menyelamatkan dua nyawa, yakni ibu dan bayinya. Pertaruhan yang luar biasa. Bukan hanya hidup mati pada pasiennya, tapi juga hidup mati dokternya karena kondisi hutan dengan tidak ada bius untuk operasi, peralatan terbatas, tidak ada tenaga dokter yang memadai saat melakukan operasi sesar dengan memakai silet, “ ungkapnya mengenang.

Ipong membeberkan tantangan dalam proses shooting-nya, yaitu kondisi alam Papua yang cukup susah untuk dijangkau. “Team Produksi Film ‘Boven Digoel’ melakukan perjalanan dari kabupaten Merauke ke kabupaten Boven Digoel yang ditempuh dengan perjalanan darat selama 10 jam. Lokasi shooting-nya menggunakan set artistik yang riil dengan tempat kejadian di tahun 90-an, yaitu berupa puskesmas yang dulu digunakan untuk operasi sesar menggunakan silet,” bebernya.

Sementara lokasi Boven Digoel sendiri jauh sebelumnya sudah terkenal dalam sejarah nasional dikenal sebagai tempat pembuangan Sjahrir dan Hatta. Jauh sebelum rezim Nazi membangun kamp konsentrasi Auschwitz di Kota Oswiecim, Polandia, pada 1940, pemerintah kolonial Belanda lebih dulu membangunnya di Indonesia. Kamp konsentrasi pertama yang dibuat di Indonesia oleh Belanda tepatnya berada di Tanah Merah, Boven Digoel, Papua.

Kembali ke film Boven Digoel, yang siap rilis 9 Februari 2017 di seluruh bioskop Tanah Air ini, lengkapnya melakukan shooting selama 20 hari di antaranya: di Kampung Yahim Sentani, Danau Love Yoka Abepura, Bandara Ama Sentani, Pelabuhan Jayapura, Kampung Netar Sentani, Pantai Kelapa Satu Merauke, Tanah Merah Boven Digoel, Kampung Ampera Boven Digoel, Hutan Wet Boven Digoel dan Pelabuhan Boven Digoel dengan panorama alam yang indah yang memanjakan mata untuk menikmatinya.

Boven Digoel, adalah sebuah film berlatar kearifan lokal Papua ini, dibintangi mutiara dari timur Indonesia. Kulitnya hitam tapi halus mulus dengan rambut keriting yang menggemaskan. Kemudian, tulang pipi dan bahunya yang sempurna dengan susunan gigi yang rapi dan putih, pribadi yang hangat, ceria dan ramah. Namanya Maria Fransisca, yang tak lain Putri Papua 2013 dan Finalis Putri Indonesia 2014 perwakilan Papua yang kini menjadi Duta Humas Polda Papua dan Duta Pemberantasan Narkoba Papua.

Maria berharap film ini bisa menjadi pelajaran kita semua. “Banyak orang menilai operasi sesar dengan silet itu mustahil, tapi begitulah kenyataan yang terjadi di Boven Digoel Papua karena keterbatasan tenaga dan peralatan medis, “ ungkap dara hitam manis kelahiran Papua, 11 oktober l995 yang kini masih jadi mahasiswi Teknik Planologi Universitas Cendrawasih Papua dan di film ini juga mendapat kesempatan untuk beradu akting dengan sang legenda Christine Hakim.

Lengkapnya kisah Boven Digoel, bertutur tentang John (27 tahun), lelaki kelahiran Jayapura, yang berprofesi sebagai seorang dokter di salah satu puskesmas di pedalaman di wilayah Tanah Merah, Boven Digoel, Papua. Sosoknya yang pintar bergaul, sopan, penuh dedikasi, dan selalu mengutamakan kepentingan orang banyak, serta penuh kesabaran dan tetap teguh dalam pengharapan dalam suka maupun duka dalam segala hal ini, yang membuatnya disukai banyak orang.

Polemik kemudian muncul, ketika Dokter John dihadapkan sebuah kenyataan, dimana ia bersama stafnya harus melakukan operasi sesar terhadap seorang wanita bernama Ibu Agustina (35 tahun), yang telah melahirkan sebanyak 9 kali.

Tragisnya, Puskesmas Tanah Merah tidak mempunyai sarana yang memadai untuk melakukan operasi sesar ini. Ditambah lagi, masalah keterbatasan kemampuan tenaga kesehatan yang ada.

Judul film: Boven Digoel, Durasi : 93 Menit, Jenis Film : Drama, Produser : John Manangsang, Sutradara : FX Purnomo,
Penulis : Jujur Prananto, FX Purnomo, Produksi : Foromoko Matoa Indah Film, Pemain: Ira Dimara, Maria Fransisca, Lala Suwages, Ellen Aragay, Juliana Rumbarar, Christine Hakim, Jflow Matulessy.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz