Beranda Film Behind The Scene Kritik Film Sangat Diperlukan

Kritik Film Sangat Diperlukan

133
0
BERBAGI
Peserta dan panitia diacara work shop Kritik film (21-23 Agustus 2017) di jakarta. Foto: Ist.
Kepala Pusat Pengembangan Film (Pusbang Film), Kemendikbud Maman Widjaya, memberikan kata sambutan dan sekaligus membuka kegiatan workshop Kritik Film dan Non Kritik, di Jakarta (21-23 Agustus 2017). Foto: Ibra.

Jakarta, theatersatu.com: “Lewat kritik film, akan membangun film Indonesia lebih baik dan berkualitas,” demikian harapan dari sambutan yang disampaikan Kepala Pusat Pengembangan Film (Pusbang Film), Kemendikbud Maman Widjaya, yang sekaligus membuka kegiatan workshop Kritik Film dan Non Kritik, kerjasama Pusbang Film Kemendikbud dan wartawan, 21-23 Agustus 2017 di hotel Alila, di Jakarta.

Menurut Ketua Pokja penyelenggara Wina Armada, kritik film saat ini memang sangat diperlukan demi kemajuan industri film nasional itu sendiri. Pasalnya, kegiatan ini sudah lama tidak ada. “Mengkritik film tak hanya soal kelemahan filmnya saja tapi juga boleh menyampaikan soal kelebihannya,” sambung Wina.

Kegiatan ini sendiri diikuti sangat antusias oleh puluhan wartawan dari berbagai media cetak dan on line, serta komunitas film. Pasalnya narasumber yang dihadirkan adalah orang-orang film yang mumpuni di bidangnya.

Sebut saja misalnya, seperti Zairin Zain produser film yang mau berbagi ilmu tentang seluk beluk design produksi film, Wartawan senior Wina Armada yang memberikan ilmu dan tips tentang praktik penulisan kritik film, Masmiar Mangiang bicara soal dasar-dasar penulisan features perfilman, Hadi Artono: Menjelaskan analisis tata kamera, Tommy Awuy: Menerangkan sejarah kritik seni dari sudut filsafat dan beberapa teori kritik terhadap seni: antara lain teori planto-aristoletes, teori realisme, teori Sigmund Freud, Karl Marx dan lainnya, Aan Jasman : Menerangkan manfaat analisis skenario dalam pembuatan film, Deddy Setiadi menjabarkan betapa sutradara memerlukan kritik film.

“Sejak bangkitnya industri film tahun 2000 saya kehilangan kritikus film. Padahal sebagai sutradara saya sangat membutuhkan kritik tersebut sebagai kontrol kerja saya. Karena dulu setiap minggu waktu di TVRI, kita rapat membahas apa yang dikritik wartawan,” ungkap Dedi dimana acaranya sendiri diakhiri dengan diskusi di antara para peserta yang terbagi dalam lima kelomp[ok, terhadap karya kritik film yang dihasilkan dari nobar film Athira.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz