Beranda Buah Bibir Vice President Film Asean, Syamsul Lussa, “Film Indonesia Terdepan Diantara Negara Asean”

Vice President Film Asean, Syamsul Lussa, “Film Indonesia Terdepan Diantara Negara Asean”

902
0
BERBAGI
Vice President Film Asean, Syamsul Lussa. Foto Ki2
Anggota LSF priode 2015-2019. Foto: Dudut Suhendra Putra.
Syamsul Lussa (berdiri nomer satu dari kiri  di depan) sebagai Anggota LSF priode 2015-2019. Foto: Dudut Suhendra Putra.

Jakarta, theatersatu.com: Di industri perfilman nasional nama Syamsul Lussa tentu tidak asing lagi. Karena pria kelahiran di Masamba, Sulawesi Selatan, 28 Nopember 1956 ini, sebelumnya duduk sebagai Direktur Film di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ia sepertinya tak pernah jauh dari dunia film, karena kini di era Presiden Jokowi, ia juga menjadi anggota komisi 3 bidang Evaluasi dan Hubungan Antar Lembaga di Lembaga Sensor Film (LSF) perwakilan pemerintah dari Kementerian Pariwisata. Dan mungkin yang belum banyak orang tahu, lelaki yang menuntaskan pendidikan S2 Sosio-Cultural and Psycology of Tourism James Cook University Australia ini, tahun 2015 lalu hingga kini duduk sebagai co-founder Film Asean dan juga  sekaligus  dipercaya sebagai Vice President Film Asean yang bermarkas di Manila, Philipina.

Menurut Syamsul, industri perfilm nasional boleh cukup berbangga hati karena film Indonesia berada terdepan diantara 10 anggota Asean. “Meskipun Indonesia terdepan maju dalam industri film diantara 10 negara Asean, saya ingin semua negara Asean filmnya bisa bersaing dengan negara-negara lain,” tekad Syamsul sebagai Vice President dan juga pendiri Film Asean di depan wartawan, Kamis (11/2/2016) siang di Jakarta.

“Untuk itu pelatihan tentang perfilman misalnya terus dibuat. salah satunya misalnya cara penulisan skenario, membuat film dengan cara kerjasama beberapa negara Asean. Serta tampil dalam event-event festival film internasional di mana negara Asean hadir dalam satu both. Semua akan dilakukan demi merebut pasar tingkat dunia,” ujar Syamsul yang berharap peran pemerintah dari negara masing-masing turut mendukung demi kemajuan film Asean.

Melalui jaringan network film Asean, organisasi ini juga ingin mewadahi jika ada negara di luar Asean yang akan membuat film, akan memfasilitasinya.

“Misalnya dari negara di luar Asean ingin suting membuat film di Malaysia dan butuh tempat lokasi sutingnya di mana, terus kita baca dulu isi ceritanya, apakah film itu akan memojokan negara tersebut atau tidak? Nah, kita tanya dulu, apakah mereka ijinkan atau tidak film itu. Kalau tidak dijinkan ya tidak kita berikan ijinnya. Jika diijinkan silahkan,” papar Syamsul yang turut mempelopori festival film Asean sejak 2012 di Bali bersamaan diselengarakanya Asean Summit.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz